Rabu, 25 Juli 2012

Sebuah Renungan: AKU DAN RAMADLAN

Sebuah Renungan:
AKU DAN RAMADLAN 

Oleh: Ahmad Ahid, Lc, MSI


Tidak terasa, satu tahun sudah berlalu. Waktu serasa cepat berjalan. Aku merasa ‘merdeka’ ketika lepas dari Ramadlan. Bukan merdeka yang merupakan hasil sebuah perjuangan, namun merdeka dalam arti bebas berbuat apa saja, kapan saja dan di mana saja. Ramadlan bagiku seperti penjara yang menjeruji seluruh keinginanku. Aku tidak bebas, aku tidak lepas dan aku tidak puas.

Aku belum merasa menikmati Ramadlan, kecuali hanya ketertekanan, keterpaksanaan dan keberatan. Ketika Shalat Tarawih, yang ada adalah kegundahan hati. Pikiranku sering melayang tak karuan, apalagi ketika shalat di belakang imam yang bacaan suratnya panjang. Rasanya ingin lari keluar dari shaf shalat. Belum lagi rasa kantuk yang terus menggelayuti mataku. Duh, YaRabb, kenapa aku jadi begini? Ada apa dengan diriku?

Ketika aku memegang al-Qur’an, muncul perasaan malas dan ketidaksanggupan membacanya ayat demi ayat, padahal Allah SWTmenjanjikan pahala yang besar bagi pembacanya, terutama di Bulan Ramadlan. Setiap aku memegangnya, tanganku terasa berat membukanya. Ketika sudah membaca, muncul bisikan untuk mencukupkan bacaan, padahal aku ingin mengkhatamkannya.

Saat hartaku berlebih, aku enggan untuk memberikannya sebagai sedekah atau zakat kepada mereka yang membutuhkan. Masih ada dalam hati rasa saying kepada hartaku, padahal aku tahu, harta itu titipan Allah SWT yang memerintahkan untuk memberikan sebagiannya kepada yang berhak menerimanya. Aku masih merasa harta itu hasil jerih payahku, hasilkerja dan usahaku.

Ketika berpuasa dan aku merasa lapar dan dahaga, kadang muncul bisikan untuk membatalkannya, apalagi saat aku sendiri tanpa siapa-siapa. Toh, tidak ada yang tahu kalau aku tidak puasa. Namun aku tidak berani, aku masih punya Allah SWT Dan Allah SWT melihat setiap perbuatanku. Aku pun tidak mau membatalkan puasa dengan sengaja tanpa udzur, karena takut kafarat dan membayarnya setelah Ramadlan. Tetapi perasaan itu, selalu muncul dalam hatiku.

Aku harus segera berbenah. Aku harus segera bangkit. Aku harus melakukan perbaikan diri. Aku harus mulai sadar bahwa puasa tidak hanya perintah Allah SWT, tapi ia adalah sesuatu yang aku butuhkan untuk menjadikan diriku berkualitas.  Kualitas keimananku kepada Allah SWT dan kualitas sosialku kepada sesama. Aku harus segera tahu bahwa Ramadlan Allah SWT sediakan untukku untuk menjadikan diriku menjadi pribadi yang bertakwa, sebab takwa adalah puncak kebaikan dan ketinggian kepribadian.
Allah SWT berfirman:
ولكن البر من اتقى (البقرة : 189)
Artinya: Dan tetap ial-birr (kebaikan) itu adalah orang yang bertakwa (QS. al-Baqarah: 189)

Aku tidak mau terulang lagi Ramadlanku seperti tahun lalu. Aku tidak mau Ramadlanku berlalu bersama waktu dan aku hanya terpaku meratapi diriku yang tidak menentu. Aku ingin Ramadlanku tahun ini begitu bermakna bagiku, begitu berarti bagi diriku, begitu berguna bagi hidupku, duniaku dan akhiratku. Ya Allah, berikan kekuatan kepadaku untuk menjalani puasa ini dengan sepenuh keimanan dan harapan ridla-Mu. Aku ingin maghfirah-Mu. Aku ingat sabda Rasul-Mu:
من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه (رواه البخاري)
Artinya: Barang siapa yang berpuasa Ramadlan dengan keimanan dan mengharapkan ridla Allah maka akan diampuni dosanya yang telah lalu (HR. Bukhari)

Ya Allah berikan kekuatan kepadaku untuk sabar dalam ketaatan kepada-Mu. Aku yakin dalam kesabaran ada kemanisan, dalam ketaatan ada kenikmatan, dalam kesusahan ada kemudahan, dalam kesempitan ada kelapangan dan dalam setiap masyaqqah ada pahala yang besar. RAMADLAN TAHUN INI HARUS BEDA!!!

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Ruqyah Syar'iyyah Kudus