Kamis, 19 Agustus 2010

Persembahkan Yang Terbaik

فصل لربك وانحر
"Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan qurban"
QS: Al Kautsat : 3

Ayat di atas mengandung dua perintah. Perintah pertama adalah shalat dan perintah yang kedua adalah menyembelih hewan qurban. Kedua perintah tersebut sama-sama memiliki kesamaan makna dan tujuan, yaitu taqarrub ila Allah. Shalat memililki makna taqarrub dengan gerakan tubuh dan komunikasi dengan Allah SWT dan menyembelih hewan qurban memiliki makna taqarrub dengan cara mempersembahkan hewan qurban kepada Allah SWT.

Sebentar lagi, kaum muslimin di seluruh dunia menyambut Idul Adha 1429 H. Hari dimana saat itu, para jama'ah haji berkumpul di Mina untuk melempar jumroh aqobah. Dan pada saat itu itu pula, seluruh kaum muslimin mempersembahkan persembahan terbaiknya kepada Allah SWT.

Selayaknya setiap muslim mempersembahkan persembahan terbaiknya kepada Allah SWT sebagai bukti pengorbanan untukNya. Pengorbanan pada hakikatnya adalah konsekuensi cinta seorang hamba kepada Rabbnya. Semakin tinggi cinta seorang hamba, akan semakin tinggi tingkat pengorbanannya. Ia rela mengorbankan segala apa yang dimilikinya, baik harta, tenaga, bahkan nyawa.

Dalam panggung sejarah para sahabat, kisah-kisah pengorbanan mereka bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk berkorban. Lihatlah bagaimana Abu Bakar As Shiddiq dan Umar bin Khottob yang selalu berlomba memberikan persembahan terbaiknya untuk Allah dan agama ini. Ketika Rasulullah SAW bertanya kepada Umar bin Khottob: "Apa yang kamu berikan untuk jihad fi sabilillah?" Umar menjawab: "Saya berikan separoh hartaku untuk jihad dan separohnya untuk keluargaku". Umar bin Khottob mengira jumlah itu sudah sangat banyak. Tetapi ketika Rasulullah SAW bertanya kepada Abu Bakar dengan pertanyaan yang sama, iapun menjawab: "Saya berikan semua hartaku untuk jihad ini" Rasulullah bertanya: "Apa yang kamu berikan untuk keluargamu?" Abu Bakar menjawab: "Saya serahkan istri dan keluargaku kepada Allah dan rasulnya". Sebuah pengorbanan terbaik dan totalitas kepada Allah SWT.

Di samping pengorbanan harta, para sahabat rela mengorbankan nyawanya untuk tegaknya kalimah Allah SWT. Di antara mereka adalah Hamzah bin Abdul Muttholib, singa padang pasir yang disegani oleh kawan dan ditakuti oleh lawan. Perang Badar mencatat kepahlawanan Hamzah yang akhirnya membawa kemenangan Islam –bi idznillah-. Pada saat Perang Uhud, Hamzah pun tidak kalah serunya dalam memainkan pedanya menebas setiap leher orang kafir Quraisy. Tetapi Al Wahshy yang merupakan juru tombaknya Hindun mampu menunjamkan tombaknya tepat di dada Hamzah, saat ia berkonsentrasi dengan pasukan kafir Quraisy yang lain. Yang paling mengerikan adalah jasad suci itu dibelah dadanya untuk diambil jantungnya.

Lihat pula Kholid bin Walid yang merindukan syahadah di medan jihad. Hampir setiap peperangan ia ikuti. Banyak sekali kemenangan Islam yang diraih berkat kepemimpinannya. Sampai-sampai tidak ada tubuhnya yang utuh kecuali terdapat bekas sayatan senjata tajam. Ia hanya berharap berjumpa Allah SWT dengan darah yang mengalir dari tubuhnya sebagai saksi kesyahidannya. Tetapi Allah SWT berkehendak lain. Tubuh yang penuh sayatan itu meninggal di pembaringannya tanpa setetes darahpun yang mengalir. Begitulah pengorbanan yang dipersembahkan oleh para sahabat, generasi awal umat ini.

Adapun kita, marilah kita mengambil qudwah dari para pendahulu kita dalam mempersembahkan persembahan terbaik kepada Allah SWT. Di antara bentuk pengorbanan itu adalah menyembelih hewan qurban di hari agung Idul Adha 1429 H. Dalam upaya persembahan terbaik itu, para ulama memberikan syarat hewan qurban yang layak untuk diqurbankan. Diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Berumur minimal 1 tahun untuk kambing, 2 tahun untuk sapi dan kerbau dan 4 tahun untuk unta. Syarat ini diambil karena kambing berumur 1 tahun, sapi atau kerbau berumur 2 tahun dan unta berumur 4 tahun layak untuk disembelih, banyak dan enak dagingnya. Rasulullah SAW bersabda :

لاتذبحوا إلا مسنة إلا أن يعسرعليكم فتذبحوا جذعة من الضأن والمسنة من الأنعام هي الثنية. رواه مسلم
Artinya:
Janganlah kamu menyembelih kecuali musannah, kecuali akan memberatkan kalian, maka sembelihlah jadz'ah (umur 1 tahun) dari kambing. Dan musannah dari hewan ternak (sapi, kerbau) adalah tsaniyah (umur 2 tahun). HR. Muslim.

2. Utuh semua anggota tubuhnya, termasuk gigi dan tanduknya, sehat dan tidak berpenyakit. Rasulullah SAW bersabda :

أربع لا تجوز في الأضاحي: العوراء البين عورها والمريضة البين مرضها والعرجاء البين ضلعها والكسيرة التي لا تنقي – يعني لا نقي فيها- أي لا مخ في عظامها وهي الهازل العجفاء. رواه الترمذي
Artinya:
Empat perkara yang tidak diperbolehkan dalam penyembelihan hewan kurban: hewan yang jelas juling matanya, hewan yang berpenyakit yang jelas penyakitnya, hewan pincang yang kelihatan jelas tulang rusuknya, hewan yang terpotong anggota tubuhnya dan hewan yang lemah dan tidak punya kekuatan. HR. At Tirmidzi.

Jika ketiga syarat itu sudah terpenuhi, maka setiap muslim yang akan berqurban mengikhlaskan niat dan menyebut nama Allah SWT sebelum memulai menyembelih hewan qurban tersebut dengan mengucapkan : بسم الله والله أكبر هذا منك و لك (Bismillah Allahu Akbar, ini dari-Mu dan untuk-Mu). Setelah hewan qurban itu disembelih, seluruhnya dibagi-bagikan, sepertiga untuk keluarganya, sepertiga disedekahkan kepada fakir miskin dan sepertiga dihadiahkan kepada kerabat dan kawan-kawannya.

Persembahan hewan qurban ini adalah sunnah Rasulullah SAW dan sunnah Nabi Ibrahim AS ketika beliau menerima wahyu lewat mimpi untuk menyembelih putra laki-lakinya dan satu-satunya yang sangat diharapkan menjadi penerus risalahnya. Akan tetapi harapan itu pupus ketika Allah SWT memintanya untuk menyembelih putranya, Ismail AS. Ada perasaan berat dalam hatinya. Karena itu, pada keesokan harinya Nabi Ibrahim menyampaikan mimpinya itu kepada putranya. Beliau mengatakan : "Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi tadi malam, bahwa aku menyembelihmu. Apa pendapatmu?". Ismail AS menjawab: "Wahai bapakku, kerjakan apa yang diperintahkan kepadamu, engkau akan mendapatkan diriku –insya Allah- termasuk orang-orang yang sabar". Jawaban Ismail AS membuat hati Nabi Ibrahim AS yang berat itu menjadi ringan dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Acara penyembelihan putranyapun akan segera dilakukan. Ia dan Ismail AS berangkat ke Mina. Di sepanjang jalan menuju ke Mina, banyak godaan dan rayuan setan agar ia mengurungkan niatnya. Karena keduanya sudah bertekat bulat melaksanakan perintah Allah SWT, setan yang merayunya dilempari dengan batu hingga pergi menghilang. Peristiwa ini diabadikan menjadi salah satu sunnah haji, yaitu jumroh aqobah, jumroh al ula dan jumroh al wustho.

Setelah setan yang mengganggu perjalanan mereka pergi dan tidak berani datang lagi. Nabi Ibrahim AS mencari tempat yang paling baik untuk menyembelih putranya itu. Setelah menemukan tempat yang tepat, Ismail dibaringkan dan siap untuk disembelih. Tiba-tiba terdengar suara dari Malaikat Jibril yang menyampaikan wahyu dari Allah SWT bahwa Ibrahim membenarkan mimpinya dan melaksanakan perintahnya dengan baik. Karena itu, Allah SWT menggantinya dengan hewan kambing untuk disembelih. Cerita ini, diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al Qur'an Surat Ash Shaffat ayat 102-107 :
Artinya :
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". Tatkala keduanya Telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, Sesungguhnya kamu Telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya Ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

Marilah kita syukuri rizki yang Allah SWT berikan dengan cara menggunakannya untuk taqarrub kepada Allah SWT diantaranya dengan berqurban. Semoga Allah menerima ibadah dan qurban kita. Amiin Ya Rabbal Alamin.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Ruqyah Syar'iyyah Kudus