Minggu, 13 Desember 2009

Pisau Itupun Akhirnya Melukai ...

Perkembangan teknologi saat ini bagaikan gelombang lautan yang tidak dapat dibendung lagi. Setiap gelombang itu membawa kekuatan besar bagi peradaban manusia. Manusia seakan-akan termanjakan dan terninabobokkan oleh teknologi. Perjalanan jauh sudah tidak butuh waktu yang lama untuk sampai. Komunikasi jarah jauh tidak butuh waktu berhari-hari. Apa yang terjadi di sebuah kampung di daerah pedalaman ujung dunia ini, dengan sekejap bisa dinikmati dan disaksikan oleh seluruh mata manusia di seluruh dunia. Pepatah yang mengatakan, dunia tak selebar daun kelor, sudah tidak berlaku lagi. Yang berlaku saat ini adalah dunia seperti bekel mainan anak-anak.

Perkembangan teknologi sebetulnya seiring dan sejalan dengan kemajuan pemikiran manusia. Allah SWT memberi anugerah termahal bagi manusia. Dengannya ia akan hidup dalam kehidupannya, tanpannya ia adalah bangkai meskipun bergerak jasadnya. Dialah akal. Dalam Al Qur'an, Allah SWT sering sekali bertanya kepada manusia; Afalaa ta'qiluun? Afalaa tubshiruun? La'allakum ta'qiluun, La'allakum tadzakkaruun, dan sebagainya.

Manusia dengan akalnya akan mampu membedakan mana yang manfaat bagi dirinya, dan mana yang merusak dirinya. Sehingga Islam dengan Maqashidus Syari'ahnya sangat menghargai akal manusia. Karenanya segala dzat atau perbuatan yang bisa merusak akal manusia hukumnya haram dan pelakunya harus mendapatkan hukuman. Contohnya adalah khamr. Khamr diharamkan karena di dalamnya terdapat dzat yang bisa merusak akal manusia. Pelakunyapun harus siap untuk menerima hukuman cambuk 40 kali sampai 80 kali.

Seharusnya segala perkembangan teknologi saat ini harus ditimbang-timbang dan dikaji manfaat dan madharatnya dengan akalnya. Bukan dilek apa adanya. Manusia yang keblinger dengan teknologi akan mengatakan bahwa dirinya adalah manusia modern, gaul dan tidak ketinggalan jaman. Banyak manusia memiliki pemikiran seperti itu, tapi justru ia telah membuang budaya dan martabatnya. Baju ketat dianggap sebagai pakaian gaul dan tren, tapi justru dengan pakaian itu ia bukan menjadi manusia berbudaya dan bermartabat. Karena orang yang berbudaya dan bermartabat akan dihormati dan dihargai oleh manusia lain. Apakah ada orang yang berbaju ketat dihormati dan dihargai orang lain? Bukankah yang terjadi sebaliknya ….

Handphone (HP) adalah salah satu alat komunikasi mutakhir abad ini yang ditemukan oleh akal manusia. Dengannya manusia bisa berkomunikasi langsung dan dalam waktu yang cepat dan singkat, baik komunikasi dengan huruf (Short Massage/SMS) maupun dengan percakapan. Bahkan HP sekarang sudah bukan hanya alat komunikasi, tetapi sudah menjadi sarana intertainment (hiburan). Karena barangnya yang kecil, praktis dan mudah dibawa kemana-mana, maka tidak heran dari usia balita (bawah lima tahun) hingga alita (atas lima puluh tahun) asyik bermesraan dengan HP.

HP di satu sisi memiliki manfaat yang besar bagi manusia, lebih-lebih tuntutan pekerjaan yang mengharuskan selesai dalam waktu cepat dengan biaya yang murah serta hasil yang maksimal. Akan tetapi, di sana juga terdapat sisi madharat yang tidak kalah besarnya. Realita di lapangan membuktikan bahwa orang tua saat ini tidak hanya membiayai SPP anaknya saja, tetapi ia harus menyediakan pulsa untuk HP anaknya. Kadang-kadang terjadi, ketika orang tua tidak menyediakan pulsa, SPP sekolah diembat juga. Orang tua merasa sudah membayar SPP setiap bulan, tetapi sekolah meminta tagihan tunggakan.

Belum lagi masalah penyalahgunaan fasilitas yang disediakan oleh HP saat ini yang sudah dilengkapi dengan kamera, internet dan lain-lain. Banyak sekali tangan-tangan jahil manusia yang menyalahgunakan fasilitas HP tersebut untuk arena kemaksiatan. SMS porno, akses film atau adegan porno sampai kepada bisnis film porno melalui HP. Anehnya, pelaku dalam film itu bukan bintang film Hollywood, tetapi teman kampung sendiri atau bahkan dirinya sendiri. Na'udzu billah …..

Saking begitu besarnya pengaruh HP dalam diri pelajar, banyak sekolah yang melarang peserta didiknya untuk tidak membawa HP ke sekolah. Bahkan dalam POS (Pedoman Operasional) Ujian Nasional Departemen Pendidikan Nasional menyantumkan dalam tata tertib peserta UN agar tidak membawa HP ke dalam ruang ujian. Meski demikian, aturan itu tidak membuat peserta didik menjadi jera karenanya. Kenyataannya masih banyak peserta didik dengan kreasi dan inovasinya masing-masing, masih bisa bebas menggunakan barang itu. Yang paling mengherankan, pihak sekolah melalui guru-guru pengawasnya mengirim jawaban soal UN lewat SMS ke peserta didiknya. Di mana kerahasiaan UN?

Dan memang benar, pisau-pisau itu jika tidak dipegang oleh orang yang mengetahui kegunaannya dengan baik dan benar, akan melukai … dan terus akan melukai … Wallahu a'lamu bishawab.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Ruqyah Syar'iyyah Kudus